Senin, 27 Mei 2013

Teratai Mustika Yang Cacat 025



Tukang jagal jadi Bodhisattva---senyuman yang paling berharga dan paling langka.

Berharap agar Buddha melindungi semua insan.

Ada seorang pasien yang walaupun seorang tukang jagal, namun sikapnya pada orang lain tulus dan lapang hati. Menjagal babi adalah karir warisan ayahbundanya, dia memberitahukan saya : “Kami tak leluasa mengubah pekerjaan ini, juga tidak tahu bagaimana seharusnya mengganti profesi”. Sejak kecil ada yang mengajari dia melafal Amituofo, sehingga sejak kecil setiap melihat Rupang Buddha, dia segera beranjali melafal Amituofo 3 kali. Setiap kali berdoa dia tak pernah memohon untuk dirinya sendiri, namun memohon pada Buddha agar melindungi semua orang.

Menyadari penderitaan babi ketika hendak dijagal, bertobat dengan setulusnya.

Walaupun telah menjagal babi dalam jangka waktu yang lama, namun sikapnya baik pada orang lain, para kerabatnya yang datang berkunjung, semua telah pernah menerima budi dari dirinya, dan sangat berterimakasih serta memujinya. Namun menjagal babi tetaplah pembunuhan dan akan mendapatkan akibatnya. Kemudian dia mengidap kanker tenggorokan, hanya dalam beberapa tahun, sel kanker telah menyebar ke seluruh tenggorokannya. Walaupun telah menjalani terapi, namun kambuh kembali, setiap malam dia berbaring di atas kasur, sulit bernapas, waktu bernapas akan terdengar suara yang serupa suara menarik gergaji, dahaknya tertahan di kerongkongan, tidak bisa keluar juga tidak bisa ditelan. Setiap pernafasan baginya adalah penderitaan yang amat menyiksa. Dalam penderitaan dia memberitahukan saya bahwa kini dia telah menyadari bagaimana penderitaan babi ketika hendak dijagal. Kemudian dia duduk di atas kasur dan mulai melafal Amituofo, bertobat dengan setulusnya.

Karena tidak dapat menelan, maka harus dipasang selang nasogastrik untuk menuangkan makanan ke dalamnya, walaupun demikian dia tetap berpandangan lapang, dan dapat membangkitkan tekad melafal Amituofo terlahir ke Alam Sukhavati. Maka itu wajahnya tampak riang gembira, berbeda dengan pasien lainnya.


Membangkitkan tekad Bodhisattva untuk mendonorkan organ tubuh.

Suatu hari dia berkata padaku : “Dokter Guo, lihatlah, bagian mana dari tubuhku yang masih bisa dipakai?  Apakah selaput bening mataku bisa didonorkan kepada orang lain? Apakah jantungku masih bagus? Apakah bisa didonorkan kepada orang lain? Bagian yang bisa didonorkan, tolong bantu saya mendonorkannya keluar, karena dengan mengorbankan diri saya seorang saja tak masalah, asalkan orang lain bisa sehat”. Mendengar ucapannya, saya jadi terharu serta memujinya : “Anda sungguh berhati Bodhisattva!”

Dan karena dia seorang penderita kanker, walaupun amat mulia sudi dalam kondisi masih hidup mendonorkan organ tubuhnya, namun siapa yang berani menerimanya? Apakah si penerima juga tidak merasa khawatir takut tertular? Walaupun niatnya amat mulia, saya juga tak berani menyinggung perasaannya, maka terpaksa mengalihkan pembicaraan yang bisa memotivasi dirinya.

Saat itu saya memberitahukan padanya : “Seorang manusia dalam kehidupannya adalah satu teladan, semangatmu dapat membantu banyak insan untuk mengganti jantung, mata, atau organ tubuh lainnya. Sepasang selaput bening matamu hanya bisa diberikan kepada satu orang, lagipula orang yang menerima donor ini saat bisa melihat kembali, namun kondisi disekelilingnya bisa saja membuatnya marah atau senang, belum pasti kan!  Juga ada orang yang setelah menerima donor ini jadi bisa melihat hal yang membuatnya jadi emosi, sehingga jadi lebih menderita. Kalau seorang manusia tidak bisa menggunakan matanya untuk hal yang bermanfaat, walaupun memiliki mata, dan selaput bening yang sehat, belum tentu akan bahagia. Jika seseorang belum memahami kebenaran, walaupun menjalani transplantasi jantung, juga belum tentu bahagia, dan puas. Di dunia ini banyak insan yang memiliki mata dan jantung, namun sangat menderita, karena itu yang paling penting adalah membuka mata hati”.

Dengan hati Buddha yang maitri karuna, melafal nama Buddha,
anda dapat mendonorkan kepada banyak orang “selaput bening mata hati anda”,
dapat melihat Alam Buddha nan suci, menghapus tumimbal lahir yang menakutkan.

Pada saat itu saya menasehatinya : “Bila anda memiliki hati Buddha yang maitri karuna, bila menggunakannya untuk melafal Amituofo, maka akan sejalan dengan Buddha. Kekuatan Buddha Amitabha sungguh tak terbayangkan, bila jalinan jodoh dengan dunia ini belum usai,  yang berarti praktisi yang belum sampai ajalnya, maka akan terlepas dari malapetaka, memperpanjang usia, sehingga jiwa raga kita senantiasa damai. Bila sebaliknya praktisi yang masa hidupnya telah usai, maka Buddha Amitabha akan menjemputnya ke Alam Sukhavati. Sekarang anda melafal Amituofo dengan bersungguh-sungguh, maka sekarang juga jiwa raga akan menjadi damai, saat ajal dapat terlahir ke Alam Sukhavati, kemudian kembali lagi untuk menyelamatkan semua makhluk.

Manusia di saat menjelang ajalnya adalah momen yang amat penting, momen ini harus dilalui oleh setiap insan, momen penting ini yang menentukan setelah menghembuskan nafas terakhir, bisa naik atau jatuh. Bila ingin naik maka setiap niat pikiran adalah Amituofo bertekad lahir ke Alam Sukhavati, jika saat menjelang ajal timbul pikiran jahat, maka mungkin jatuh ke neraka menjalani penderitaan. Jika di saat begini anda masih dapat giat berusaha melafal Amituofo,  dengan tekad terlahir ke Alam Sukhavati melafal Amituofo dengan setulusnya, pasti akan dijemput oleh Buddha Amitabha, duduk di singgasana teratai Alam Sukhavati, maka dalam kehidupan ini anda telah menjadi seorang teladan.

Asalkan anda dapat terlahir ke Alam Sukhavati, maka akan dapat menyelamatkan banyak orang, anda bukan saja dapat mendonorkan selaput bening mata atau jantung kepada satu orang, namun anda dapat membantu banyak orang untuk membuka mata hatinya, menghapus  tumimbal lahir yang menakutkan. Ini sama dengan mendonorkan banyak selaput bening mata hati, agar semua insan dapat melihat dengan jelas Alam Sukhavati. Bila anda dapat terlahir ke Alam Sukhavati, maka ini adalah hasil yang sempurna, maka itu para guru sesepuh menceramahkan bahwa membantu seorang insan agar berhasil terlahir ke Alam Sukhavati, adalah sama dengan menghasilkan seorang insan menjadi Buddha, sungguh jasa kebajikan yang tak terbayangkan.

Pendonor organ amat mulia, namun memerlukan maha maitri karuna, kekuatan kesabaran, tidak boleh terlalu bersemangat dan gegabah.

Saya berkata demikian padanya, bukan berarti saya menghalangi orang yang membutuhkan  transplantasi organ memiliki kesehatan dan kebahagiaan, namun di satu sisi sel kankernya telah menyebar ke seluruh tubuhnya; pendonor organ tidak boleh terlalu gegabah, karena harus dapat menahan penderitaan ketika bagian tubuh dipotong, dalam batinnya tetap terasa bebas, tidak timbul kerisauan maupun penyesalan, ini memerlukan kesabaran yang sangat mendalam,  kekuatan maitri karuna yang sangat mendalam, barulah dapat melakukannya, ini bukan dapat dilakukan oleh kemampuan manusia biasa. Ada orang yang begitu mudah berniat, namun ketika pisau potong menyentuh dagingnya, maka akan timbul rasa sakit, ketakutan dan timbul penyesalan. Jadi janganlah karena semangat sesaat ingin menjadi pahlawan sehingga memiliki niat demikian dan gegabah melakukannya, ukurlah terlebih dahulu kemampuan dan kekuatan tekad, kekuatan kesabaran, daripada sampai detik itu pikiran menjadi goyah dan menyesal.

Menyadari bahwa sepanjang hidup menjagal babi, bukan keuntungan lebih yang didapatkan, malah harus berhutang, melunasi hutang dengan penderitaan yang ekstrim.

Setelah mendengar ucapanku, dia melafal Amituofo dengan serius, sehingga tidak memerlukan lagi obat pereda sakit dapat melewati hari-harinya dengan tenang. Dia memberitahukan saya, sepanjang hidupnya dia menjagal babi, semula dikarenakan kesulitan ekonomi keluarga, jadi mau tak mau harus menjagal babi, setelah diserang penyakit, barulah menyadari hasil keuntungan yang diperoleh selama menjagal babi tidak dapat menutupi biaya pengobatan, masih harus melunasi banyak hutang, lebih susah dari semula.

Kita selalu berpandangan bahwa “jika saya tak menekuni karir ini, maka saya tak sanggup membiayai hidup lagi!”, ucapan semacam ini, sudah tahu bahwa profesi ini bertentangan dengan ajaran Buddha, tapi masih melanjutkannya, sampai ketika menyadari ini tidak diperbolehkan, barulah menyesali dan merenungkan, sepanjang hidup anda menggunakan cara yang bertentangan dengan ajaran Buddha, mencari keuntungan dan ketenaran yang hanya semata-mata, namun pada akhirnya pengorbanan yang harus anda bayar melampaui ketenaran dan keuntungan yang anda peroleh.

Menjelang ajal melafal Amituofo terlahir ke Alam Sukhavati, wajah memancarkan senyuman berharga nan langka.

Beberapa sahabat Dharma juga telah beberapa kali berkunjung dan membantu melafal Amituofo  untuk pasien ini, serta memberikan ceramah Dharma padanya. Kemudian dia memutuskan untuk pulang ke rumah, beberapa hari sebelum ajal, dia tahu waktunya telah sampai, dan berpesan kepada anak-anaknya : “Pergilah mengundang rekan-rekan Dokter Guo untuk datang membantuku melafal Amituofo”. Setelah selesai membantu dan pulang, rekan-rekanku berkata bahwa pasien ini melafal Amituofo dengan wajah tersenyum terlahir ke Alam Sukhavati. Semua hadirin semakin melafal Amituofo semakin memancarkan senyum, selama 8 jam jasadnya tetap memancarkan senyum pada hadirin yang membantunya melafal Amituofo, para sahabat Dharma yang turut membantu melafal Amituofo juga sangat tergugah dan memberi pujian.

Senyuman terakhir manusia adalah senyuman yang paling berharga dan paling langka.

Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng :  “Teratai Mustika Yang Cacat”. 


道證法師~《缺陷變寶蓮》