Selasa, 28 Mei 2013

Mendengar Lantunan Tembang Sungai Gangga 03



Ada seorang pasien dimana seluruh rahimnya telah digerogoti sel kanker, dan tinjanya keluar dari perut. Kamarnya di lantai 3 namun sampai lantai 2 juga tersebar baunya. Putranya yang menjaganya terpaksa menggunakan sehelai selimut untuk menutupi hidungnya. Pasien ini selalu ingin bunuh diri, suatu hari ketika anaknya keluar membeli sarapan, dia berusaha untuk bangkit, ketika hendak melompat dari lantai 3, pas anaknya pulang, menggagalkan usaha bunuh dirinya. Sesungguhnya dia sudah cukup menderita, namun karena ajalnya belum sampai, bunuh diri juga tak berguna. bunuh diri adalah tumimbal lahir yang tiada ujungnya, adalah mengulang adegan penderitaan yang tiada habisnya.

Ada sebuah syair pujangga : “Kala hidup seindah bunga di musim panas, kala mati seindah rembulan di musim gugur”.  Jika anda ingin seindah bunga musim gugur tidaklah sulit, namun jika ingin sewaktu mati seindah rembulan musim panas, harus memiliki ketrampilan!

Terkadang sebagian orang akan menyalahkan umat Buddha : “Kalian penganut Buddha selalu suka membahas tentang “kematian”, “menjelang ajal”…ah, terlalu berlebihan, sepertinya telah mengabaikan kehidupan, masih banyak yang bisa dilakukan dalam kehidupan ini, terutama kalian penganut aliran Sukhavati, tiap hari kerjaannya cuma melafal Amituofo, bersiap-siap ke Alam Sukhavati, sungguh pesimis”.

Sesungguhnya kita merasa hidup ini ibarat melukis seekor naga, setiap goresan demi goresan begitu penting, kehidupan dan kematian sama pentingnya, dan melafal Amituofo adalah pikiran paling bajik, dan paling positif sehingga kehidupan dan kematian memperoleh kebajikan dan keindahan yang paling sempurna.

Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng --- Mendengar Lantunan Tembang Sungai Gangga