Selasa, 28 Mei 2013

Mendengar Lantunan Tembang Sungai Gangga 02



Ketika bertugas di rumah sakit, banyak pasien yang bertanya : “Dokter Guo, berapa usia anda?” Saya menjawab : “32 tahun”. Ada yang bertanya lagi : “Sudah menikah belum? Biar saya yang jadi comblangmu”. Saya akan menjawab : “Bolehkah saya bertanya kembali, apakah kehidupan pernikahan anda bahagia?” Ah! Ternyata tak ada satupun yang menjawab :  “Ya!”

Sampai akhirnya, ada seorang pasien penderita kanker rahim, setiap kali datang berobat akan berdandan rapi, kuku jari tangan dan kaki dipoles dengan cat kuku, bibirnya dilipstik sehingga amat memerah. Setiap kali datang berobat dia selalu ingin mencomblangi diriku.  

Katanya demikian : “Keponakanku bekerja di Rumah Sakit Umum Cathay, orangnya sangat lumayan”.

Saya bertanya padanya : “Apakah pernikahan anda bahagia?”, dia menjawab : “Benar! Suamiku amat baik padaku, anakku sangat berbakti, kondisi keluargaku juga amat lumayan”.

“Kalau begitu saya harus mengucapkan selamat kepada anda karena kehidupan anda yang begitu nyaman!”

Ini adalah satu-satunya pernikahan bahagia yang pernah saya dengar, sehingga patut mendapat ucapan selamat, karena biasanya para pasien begitu memasuki pintu klinik, umumnya setengah menangis, mengeluh : “Dokter, anda tidak tahu bahwa saya menjalani terapi dengan meminjam uang sama orang lain, anakku sungguh tak senang”, atau “Aduh! Pulang ke rumah tidak ada yang mau mempedulikan diriku, karena penyakitku yang berkepanjangan, kini tidak ada yang mau merawatku lagi, juga tak ada yang sudi bertanya lagi : “Mama sudah makan belum?”. Keluhan lainnya adalah : “Sejak menderita penyakit ini, suamiku mengabaikan diriku”.

Demikianlah bunyi sebagian besar keluhan pasien, walau terkadang berbeda namun isinya sama, hanya ada seorang pasien yang hebat, yang bisa melewati hidupnya dengan bahagia!

Tak berapa lama kemudian, suster dengan terkejut memberitahukan padaku bahwa pasien ini telah bunuh diri ! Suster berkata : “ Suratkabar memuat ada sebuah mayat berhasil diangkat dari sebuah selokan besar di Feng-yuan, dia meninggalkan rumahnya sudah lima hari, kemudian ditemukan bunuh diri”. Saya berkata : “Bukankah kehidupannya amat berbahagia? Pasien satu-satunya yang hidup bahagia kenapa bisa bunuh diri?”

Hadirin sekalian, cobalah pikirkan, mengapa pada saat itu, cinta suami tidak dapat mengembalikan keinginan hidupnya?  Mengapa bakti anak-anaknya tidak dapat membatalkan niatnya? Mengapa harta kekayaan tidak dapat membeli kenyamanan untuk jiwa dan raga nya? Kecintaan suami tidak bisa mewakilinya menahan penderitaan kesakitan, bakti anak-anaknya tidak dapat mewakilinya berbaring di kamar bedah, seorang wanita cantik, bagaimana perasaannya ketika melangkah keluar meninggalkan rumahnya? Dan melompat ke dalam selokan air yang begitu gelap? Mungkin juga ini dikarenakan dulunya dia merasakan kehidupannya begitu bahagia, tidak menyadari adanya penderitaan dikemudian hari, dia tidak pernah membaca kalimat “dunia sungguh tak kekal, bumi sangat rentan”, maka itu dia tidak memiliki persiapan mental, ketika cobaan datang, dia tidak sanggup menahannya, ketika tidak sanggup menahan penderitaan lagi, maka mengambil jalan pintas dengan membunuh diri.

Saya sempat menyesal mengapa tidak memperkenalkan Buddha Dharma padanya sejak awal, agar dia memperoleh cahaya terang, kembali ke pangkuan Buddha Amitabha. Penderitaan semacam ini, tentunya anda sekalian berpendapat “Bukankah ini merupakan hal yang jarang terjadi, bunuh diri adalah kasus yang langka”. Sesungguhnya orang yang bunuh diri amat banyak, selama menekuni profesi dokter spesialis kanker, jika hanya ada satu hari tidak ada yang melapor bahwa hari ini tidak ada pasien yang bermaksud bunuh diri, maka hari ini adalah hari yang sangat baik, amat langka! Mereka sering mengatakan : “Lebih baik mati!” Kalimat ini bisa terdengar setiap hari, ketika harapan untuk memperoleh  “kesehatan dan perhatian”  tak terkabul, maka akan menjadi keinginan bunuh diri.  Saya selalu dibangunkan pada saat tengah malam karena ada pasien yang hendak bunuh diri! Bukanlah maksud mereka tidak ingin hidup lagi, namun karena terlalu menyiksa, tidak tahu bagaimana cara untuk meneruskan perjuangan lagi.

Dikutip dari ceramah Master Dao-zheng --- Mendengar Lantunan Tembang Sungai Gangga